Cara Mengenali anak dengan gangguan Dispraksia | Perkataan DOKTER -Tahu tidak dengan dispraksia?? bagaimana cara mengenali penyakit dispraksia? Saat ini dispraksia banyak dibicarakan oleh kalangan orang. Banyak istilah yang digunakan untuk dispraksia diantaranya perceptuo-motor dysfunction, depelopmental coordination disorder dan motor learning difficulties. Dipraksia yaitu adanya kelainan atau gangguan yang disebabkan karena ketidakmatangan otak secara sempurna atau imaturitas. Ketidakmatangan otak terjadi karena otak tidak mampu dalam mengolah informasi dan pesan yang sampai di otak. DImana informasi dan pesan tidak bisa diterjemahkan dengan baik.
Kelainan ini dapat mengganggu tentang apa dan bagaimana respon otak terhadap informasi atau ransangan. Kemudian, dispraksia berhubungan juga dengan gerakan, bahasa ataupun pikiran, masalah persepsi. anak yang mengidap penyakit dispraksia ini sering disebut anak ceroboh, dimana sulit melakukan dengan baik gerakan-gerakan yang kasar dan halus, terkadang juga disebut disklesia dimana anak serik terbalik menggunakan huruf tertentu.
Kelainan ini dapat mengganggu tentang apa dan bagaimana respon otak terhadap informasi atau ransangan. Kemudian, dispraksia berhubungan juga dengan gerakan, bahasa ataupun pikiran, masalah persepsi. anak yang mengidap penyakit dispraksia ini sering disebut anak ceroboh, dimana sulit melakukan dengan baik gerakan-gerakan yang kasar dan halus, terkadang juga disebut disklesia dimana anak serik terbalik menggunakan huruf tertentu.
Dalam banyak literatur disebutkan bahwa diperkirakan 10 persen dimana yang 2 persen mengidap penyakit dispraksia. Umumnya ditemui pada anak laki-laki. Hingga saat ini belum dapat ditentukan penyebab pasti dari dispraksia. Namun kebanyakan menghubungkan dengan belum matangnya otak, dan bukan suatu kerusakan otak.
Anak yang mengidap dispraksia verbal tidak memiliki otot yang lengkap dan berfungsi baik. Ada otot daerah mulut yang tidak berfungsi dengan baik sehingga otot daerah mulut mereka selalu membuat bunyi-bunyian dan juga tidak bisa melafalkan dengan baik bunyi-bunyian tertentu.
Untuk mengatasi hal ini diperlukan perhatian lebih dari orang tua terhadap perkembangan dan perilaku anak. terdapat gejala anak prasekolah yang mengarah dispraksia yaitu adanya keterlambatan perkembangan anak pada motorik kasar, halus, bahasa dan kemandiriannya. Semisal, terlambat berjalan, duduk dan bicara. Keterlambatan ini akan terlihat berbeda dengan anak yang lainnya, rancu rasanya jika sudah seumuran tetapi ternyata belum bisa melakukan seperti dengan anak seumurannya semisal melompat, menendang bola. Kemudian dispraksi di usia anak sekolah akan mengalami kesulitan dalam belajar, mudah lupa, lamban dalam bekerja dan kesulitan akan membaca dan menulis serta berhitung. Peran orang tua disini sangat dibutuhkan, harus diberikan stimulasi dalam perkembangan anaknya dengan mengajaknya bermain karena bermain adalah sarana belajar anak-anak, mengajaknya berlari agar sensor motori kasarnya terlatih, bermain lilin atau tanah liat untuk melatih sensor motorik halusnya. Dan yang pasti mesti ada asupan nutrisi yang bergizi. Tentunya hal ini dilakukan secara kontinyu agar tidak terjadi keterlambatan dalam mendeteksi dan penangananan dispraksia agar anak tidak mengalami ketertinggalan dalam perkembangan anak.
Anak yang mengidap dispraksia verbal tidak memiliki otot yang lengkap dan berfungsi baik. Ada otot daerah mulut yang tidak berfungsi dengan baik sehingga otot daerah mulut mereka selalu membuat bunyi-bunyian dan juga tidak bisa melafalkan dengan baik bunyi-bunyian tertentu.
Untuk mengatasi hal ini diperlukan perhatian lebih dari orang tua terhadap perkembangan dan perilaku anak. terdapat gejala anak prasekolah yang mengarah dispraksia yaitu adanya keterlambatan perkembangan anak pada motorik kasar, halus, bahasa dan kemandiriannya. Semisal, terlambat berjalan, duduk dan bicara. Keterlambatan ini akan terlihat berbeda dengan anak yang lainnya, rancu rasanya jika sudah seumuran tetapi ternyata belum bisa melakukan seperti dengan anak seumurannya semisal melompat, menendang bola. Kemudian dispraksi di usia anak sekolah akan mengalami kesulitan dalam belajar, mudah lupa, lamban dalam bekerja dan kesulitan akan membaca dan menulis serta berhitung. Peran orang tua disini sangat dibutuhkan, harus diberikan stimulasi dalam perkembangan anaknya dengan mengajaknya bermain karena bermain adalah sarana belajar anak-anak, mengajaknya berlari agar sensor motori kasarnya terlatih, bermain lilin atau tanah liat untuk melatih sensor motorik halusnya. Dan yang pasti mesti ada asupan nutrisi yang bergizi. Tentunya hal ini dilakukan secara kontinyu agar tidak terjadi keterlambatan dalam mendeteksi dan penangananan dispraksia agar anak tidak mengalami ketertinggalan dalam perkembangan anak.

0 komentar:
Posting Komentar